Skip to main content

SangOrangAneh XeroserYosZaim

Tingkatkan Manejemen Strees : Hidup menantang, Optimis, Hadapi

Hidup ini penuh dengan tekanan atau stressor. Tidak semua yang kita inginkan  sesuai dengan kenyataan yang ada. Banyak orang yang mampu menghadapi berbagai situasi tanpa rasa tertekan. Namun menghadapi tekanan merupakan  tantangan untuk dapat melewatinya. Ada  diantara kita yang setiap bertemu pada suatu kondisi tertentu, langsung merasakan kejenuhan, rasa tertekan, atau bahkan ada yang berujung pada keputusasaan dan nekat mengakhiri hidupnya (bunuh diri).   Setiap peristiwa tentu memiliki dampak psikologis yang berbeda pada setiap orang. Karena setiap orang memiliki ambang stress yang tentu berbeda. Semakin besar ambang stress yang dimiliki seseorang, maka akan semakin kuat pula orang tersebut dalam menghadapai dan menjalani berbagai situasi yang ada dalam hidupnya.   Pendidikan, perhatian lingkungan terdekat, keimanan, serta pengetahuan dan pengalaman yang didapat seseorang merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besar atau kecilnya seseorang dalam mengatur ambang s

onetime

Hukum Islam Menerima Penguasa Negara Penjajah


Ahlul dzimmah adalah orang-orang yang mempunyai jaminan tetap, karena mereka telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslim dengan syarat hukum Allah dan Rasul-Nya diberlakukan kepada mereka. Itu karena mereka tinggal di wilayah yang menerapkan hukum Allah dan Rasul-Nya.

 

Mereka (ahlul ‘amaan) itulah yang disebut Ahl al-Ahd, Ahl as-Shulh dan Ahl ad-Dzimmah. Adapun Musta'min adalah orang Kafir yang datang ke negeri kaum Muslim bukan untuk menetap di sana. Mereka bisa dipilah menjadi empat: 1) Duta; 2) pedagang; 3) orang yang meminta perlindungan hingga bisa mendengarkan Islam dan al-Qur'an, jika mau mereka bisa masuk Islam dan jika tidak bersedia mereka bisa pulang ke negeri mereka; dan 4) orang yang mencari kebutuhan dengan berkunjung maupun yang lain. Hukum bagi mereka adalah, mereka tidak boleh diusir, dibunuh atau pun diambil jizyah-nya. Kepada orang yang mencari perlindungan tersebut boleh disampaikan Islam dan al-Qur'an; jika dia masuk Islam, maka itu haknya, namun jika dia lebih suka kembali ke tempat asalnya, maka bisa dikembalikan ke sana. Dia tidak boleh diapa-apakan sebelum sampai ke sana. Jika dia sudah sampai di tempat asalnya, maka kembali lagi menjadi Kafir Harbi (musuh), seperti sedia kala.(Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, juz II, hal. 873).

 

Antara Ibn al-Qayyim dan Imam Syafi:

 

Hukum yang berlaku untuk Kafir Musta’min di atas, bagi Ibn al-Qayyim, dikecualikan dari hukum umum yang berlaku untuk Ahl al-Harb. Karena Musta’min adalah orang Kafir yang mendapatkan al-aman/visa, dan mereka dianggap sebagai bagian dari Ahl al-Ahdi, bukan Ahl al-Harb. Hal tersebut sama dengan pendapat Imam as-Syafi’i.

 

Ahl al-Harb mereka dilarang datang ke negeri kaum Muslim untuk berdagang, apapun alasannya. Ahl al-Harb tidak boleh dibiarkan masuk negeri kaum Muslim sebagai pedagang. Jika mereka masuk tanpa jaminan keamanan (al-aman) dan risalah (duta pembawa pesan), maka mereka bisa dirampas (hartanya). Jika mereka masuk dengan al-aman, dengan syarat membayar 1/10 lebih atau kurang dari harta mereka, maka boleh diambil. Jika masuk tanpa al-aman dan syarat, mereka harus dikembalikan ke negeri mereka. Dan tidak boleh dibiarkan melenggang di negeri kaum Muslim. (as-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hal. 244)  

 

Alasan Diberikannya Jaminan al-Aman:

  1. Sebagai utusan/ duta/ konsul untuk menyampaikan risalah kepada kepala negara Islam;
  2. Bisnis atau berdagang;
  3. Mencari kebutuhan, seperti kunjungan sanak kerabat, dll.
  4. Mempelajari Islam dan al-Qur’an (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, juz II, hal. 873).

 

Adapun syarat yang harus dipenuhi, Para fuqaha’ mensyaratkan, bahwa al-Aman tersebut bisa diberikan dengan syarat, tidak menimbulkan mudarat (bagi kepentingan Islam dan kaum Muslim). Imam (pemimpin negara) dan (pejabat negara) yang lainnya harus terikat dalam memberikan rekomendasi jaminan (al-aman) tersebut, jika tidak menyebabkan mudarat. (Qawanin al-Ahkam as-Syar’iyyah, hal. 173).

 

Jadi, meskipun individu/ rakyat boleh memberikan jaminan al-aman, tetapi jaminan tersebut tetap harus diatur oleh negara, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan Islam dan kaum Muslim. Jika ternyata ada mudarat, maka negara (Khalifah) berhak membatalkan jaminan al-aman, dan mengembalikan penerimanya sebagai Ahl al-Harb. (Disarikan dari: Imam as-Sarakhsi, Syarah as-Siyar al-Kabir, juz II, hal. 580).

 

Baca juga : Darul Islam dan Darul Kufur, Keduanya Istilah Syar'i

 

Hubungan Dengan Negara Kafir Penjajah (Daulah Muharibah Fi’lan

 

Jumhur fuqaha’ menyatakan, hukum asal hubungan Negara Islam dengan Negara Kafir –baik fi’lan maupun hukman– adalah hubungan perang. Hubungan damai antara Negara Islam dengan Negara Kafir hanya bisa terjadi karena: perdamaian, Negara Kafir menjadi Islam, atau tunduk kepada Negara Islam. (Ibn Qudamah, al-Mughni, juz X, hal. 387).

 

 

 

Salam Damai

Comments

Popular posts from this blog

Nonton Film Cengeng

  Nagabonar jadi 2 Sekali lagi menonton adegan dalam film nagabonar jadi 2. Adegan saat si om naga meminta patung Panglima Besar Jendral Sudirman untuk menurunkan tangan kanannya yang sedang menghormat ke setiap pengguna jalan tersebut.   "Jenderaaall...!!!, turunkan tanganmu jendraaall..!!!" "Untuk apa kau menghormati mereka?!?!, mereka saja tidak pernah menghormatimu jendraaaalll...!!!" (kira-kira seperti itu teriaknya). Sambil menangis dan bergelayutan, om naga bonar mencoba menurunkan tangan kanan patung jenderal sudirman yang dipaksa menghormati setiap orang yang melintas (termasuk para koruptor dan boneka penjajah musuh-musuhnya). Dalam adegan tersebut, si om naga ceritanya juga lagi kesel dengan anaknya (si bonaga) yang memutuskan untuk bekerjasama dengan orang Jepang, yang merupakan salah satu negara yang pernah menjajah negaranya. "Jenderaal... sudahlah jendraall turunkan tanganmu..!" "Jendral.. turunkan tanganmu jenderal...&

Aktivitas Politik Dalam Islam : Negara, Kelompok dan Individu

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (al Qur’an) untuk menjelaskan sesuatu”  (TQS. An Nahl: 89) “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai islam itu jadi agama bagimu”  (TQS. Al Maidah: 3) Islam sebagai Agama dan Pandangan Kehidupan Islam adalah agama ( ad diin ) ataupun mabda yang berbeda dengan yang lainnya. Islam tidak hanya mengatur urusan spiritual ( ruhiyyah ) saja, melainkan juga meliputi masalah politik ( siyasiyyah ). Islam mencakup aqidah spiritual dan politik ( al-aqidah ar-ruhiyyah wa as siyasiyyah ). Artinya selain mengatur urusan yang bersifat spiritual seperti, pahala dan dosa, siksa, surga dan neraka, hal-hal yang ghaib, serta tata cara ibadah (seperti sholah, zakat, puasa, dan haji); islam juga mengatur urusan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat (politik atau  siyasiyyah ) seperti masalah perekonomian, pendidikan, interaksi pria dengan wanita, penggalian dan penerapan hukum, termasuk kepemim

Beraktivitas dalam situasi mewabahnya penyakit

“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad). Dalam situasi mewabahnya suatu penyakit menular, maka berbagai kegiatan rutin yang biasa dilakkan akan terganggu, karena memiliki risiko besar terjadinya penularan. Oleh sebab itu perlu adanya strategi dan cara-cara yang tepat untuk meminimalisir terjadinya penularan, jika memang mengharuskan untuk beraktivitas diluar rumah atau lingkungan aman. Beberapa strategi dan cara dapat dilakukan yai